Oleh: Istiqom4h
Sebab-sebab yang Membuat Hati Menjadi Lapang
Ibnul Qayyim menyebutkan beberapa hal yang membuat dada menjadi lapang dan damai. Dari semua itu yang paling penting adalah tauhid. Dengan kebersihan dan kesuciannya tauhid itu bisa menjadi lapang, jauh lebih luas dari dunia dan isinya.
Allah berfirman,
“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (QS. Thaha : 124)
“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya , niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki kelangit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman” (QS. Al-An’am : 125)
“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya (untuk) menerima agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata” (QS. Az-Zumar : 22)
Allah mengancam musuh-musuh-Nya dengan kesempitan hati, rasa takut, rasa khawatir, dan guncangan jiwa.
“Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim” (QS. Ali Imron : 151)
“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya (untuk) menerima agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata” (QS. Az-Zumar : 22)
“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya , niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki kelangit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman” (QS. Al-An’am : 125)
Selain bahwa tauhid adalah ilmu yang bermanfaat, para ulama adalah orang yang paling lapang dadanya, orang yang paling bahagia, dan orang yang paling senang. Merekalah pemegang warisan yang ditinggalkan Rasulullah.
“dan Dia telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui” (QS. An-Nisa : 113)
“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Ilah (Yang Haq) melainkan Allah” (QS. Muhammad : 19)
Amal shalih juga termasuk hal-hal yang membuat dada menjadi lapang. Kebaikan itu adalah cahaya di dalam hati, sinar di wajah, kelapangan dalam rejeki, dan ungkapan cinta di hati orang-orang di sekitarnya.
“Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak)” (QS. Al-Jin : 16)
Selanjutnya adalah keberanian. Seorang pemberani adalah orang yang kaya hati, teguh pendirian, dan kuat tubuhnya, karena dia hanya mengharapkan kepada Dzat Yang Maha Penyayang. Dia tidak akan terusik oleh berbagai peristiwa, tidak tergoyahkan oleh kasak-kusuk, dan tidak terguncang oleh suara-suara yang mencemaskan.
Menjauhi tindakan berlebihan dalam hal-hal yang mubah, baik dalam bicara, makan minum, dan bergaul
“dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna” (QS. Al-Mu’minun : 3)
“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” ( QS. Qaaf :18 )
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid , makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan . Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A’raf : 31)
Semoga dengan membaca artikel ini kita akan mampu merubah kebiasaan yang buruk lalu diganti dengan kebiasaan yang baik Amin..
Wednesday, February 17, 2010
Friday, February 12, 2010
Menjadi kuat karena Kehilangan

Saya, anda atau mungkin juga sebagian besar umat muslim pasti pernah mendengar ceramah atau tausiah, entah di majelis atau televisi atau radio yang menyerukan agar kita tidak sampai terlalu cinta pada dunia. Karena jika itu yang terjadi maka ketika kita harus berpisah dengannya, akan terasa sangat perih rasanya di hati, bahkan mungkin sampai menangis tanpa henti. Bagi saya pribadi ajaran itu benar adanya. Secara teori ketika kita tidak sedang dalam posisi kehilangan atau kekurangan sesuatu, akan mudah bagi kita menyuruh orang lain untuk sabar atas masalah yang dihadapinya, tapi jika yang terjadi adalah sebaliknya, belum tentu juga kita bias bersabar dan ikhlas. Saya ingin bercerita tentang pengalaman pribadi perihal menjadi kuat karena kehilangan. Baru kemarin malam saya mendapatkan sedikit teguran dari Allah. HP kesayangan tiba – tiba hilang dari saku saat perjalanan keluar kota. Sudah barang tentu saya merasa panic dan mencari – cari. Coba di telefon dengan Hanphone adik tapi di reject, sampai beberapa kali dicoba tetap seperti itu. Hampir putus asa akhirnya saya hanya bisa termenung dengan hati yang dongkol dan menyesal sekali kenapa tidak menaruh handphone di saku baju. Lama sekali rasanya melamun sampai – sampai lupa kalau saat itu perut sudah sangat lapar. Lalu akhirnya teringat dengan tausiah seorang ustadz di televisi seperti yang saya uraikan diatas. Akhirnya hati saya mencari pembenaran teori untuk menghilangkan rasa dongkol yang tidak juga hilang. “ ah, terlalu berlebihan rasanya kalau harus terus – terusan marah sendiri, toh handphone tidak akan kembali.” Begitu pikir saya. Lalu saya bandingkan apa yang saya alami dengan kejadian – kejadian yang jauh lebih besar volume kehilangannya. Lumpur Sidoarjo, Gempa Sumatera barat atau bahkan tsunami aceh, bukankah jauh lebih besar kehilangan mereka daripada yang saya alami. Tidak senilai rasanya. Pikiran positif seperti inilah yang selalu saya kemukakan dalam hati sehingga tidak akan menggangu tujuan – tujuan lain yang ingin saya capai. Saya hanya berharap ini adalah sebuah intermezzo untuk tujuan saya yang lebih besar lagi. Jika kita sudah bisa menerima kehilangan / kekurangan sesuatu yang selama ini menemani kita. Saya rasa kedepan akan jauh lebih mudah untuk kita melangkah menghadapi kenyataan – kenyataan lain seperti ini. Endingnya kita akan bisa lebih ikhlas melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi diri kita dan orang lain tanpa takut kehilangan / kekurangan karena yakin Tuhan selalu bersama orang – orang yang sabar dan ikhlas.
Wednesday, February 10, 2010
Berguru dari Bakul Mie Ayam

Oleh : Bang Dje
Pada Mei 2000 saya merantau ke Jakarta. Semula saya tinggal di Condet. Hanya enam bulan di sana saya pindah ke Tanah Abang. Di sinilah saya mengenal seorang bakul mie ayam. Sebut saja namanya Arief.
Arief lulusan Madrasah Tsanawiyah di Kebumen, Jawa Tengah. Dia sudah menikah tetapi belum memiliki anak. Di Jakarta dia mengajar mengaji kepada anak-anak kecil di musholla dekat rumah. Kebetulan rumah kontrakan kami persis berhadap-hadapan.
Awalnya adalah Satu
Arief mencari nafkah dengan berjualan mie ayam. Dia memiliki satu gerobag. Pagi hari sebelum adzan shubuh berkumandang dia telah mengayuh sepedanya ke pasar untuk berbelanja berbagai kebutuhan. Saat bertemu di masjid untuk shalat shubuh biasanya dia telah selesai berbelanja. Setelah itu kerja keras dimulai.
Mengolah ayam, membuat kuah, membagi mie, menyiapkan kompor dan menata semuanya di gerobag. Tidak ketinggalan berbagai peralatan seperti mangkok, sumpit (ini temennya mie), sendok garpu, beberapa buah gelas dan beberapa botol air putih untuk pelanggan yang minta minum (gratis). Ada pula yang tidak boleh tertinggal yaitu kecap, saus, sambal dan acar. Sekitar jam delapan biasanya semua telah siap. Sesekali saya memesan untuk sarapan (ssst… tentu saja saya selalu dapat porsi lebih banyak).
Ternyata masakannya enak. Sehingga dengan cepat dia memperoleh langganan. Belum lagi beranjak dari rumah beberapa mangkok telah terjual. Dia biasa mangkal di Bilangan Slipi. Setelah membuka dasar nanti akan ada orang yang datang untuk menitipkan dagangannya seperti krupuk, gorengan, kacang dan makanan kecil lainnya. Hal ini membuat warungnya jadi kelihatan lebih ramai.
Saat shalat Ashar dia sudah hadir lagi di masjid yang berarti dia sudah pulang dari berjualan. Biasanya dagangannya sudah habis terjual. Tapi bukan berarti dia sudah bisa beristirahat. Setelah shalat ashar tugas lain sudah menanti. Bersih-bersih. Mangkok, sendok garpu, sumpit, gelas, botol air minum, dandang untuk kuah, semua harus dibereskan.
Gerobag juga harus dibersihkan. Bila perlu sekalian dicuci. Tidak perlu waktu terlalu lama. Sekitar satu jam semua sudah selesai dan dia bisa beristirahat. Ini saat santai buatnya.
Suatu hari saya melihat dua gerobag di depan rumah. Satu gerobag saya kenali milik Arief dan satu lagi gerobag baru yang belum dicat. Ternyata Arief mau membuka cabang. Dia akan membuka lahan untuk berjualan di dekat rumah dan akan ditunggui oleh istrinya.
Rencana Berubah
Tetapi belum lagi rencana ini berjalan seorang temannya, sebut saja Bari, datang. Dan rencanapun berubah.
Bari saat itu sedang menganggur. Dia ingin ikut berjualan Mie Ayam. Arief menawarkan kerja sama. Arief akan menyiapkan semua keperluan lengkap untuk berjualan. Bahkan Arief menawarkan tempatnya biasa mangkal di Bilangan Slipi. Tugas Bari hanya berjualan.
Tiap hari Bari harus setor Rp 50.000,- dan sisanya untuk Bari. (Saya dapat bocoran bahwa untuk belanja harian untuk satu gerobag hanya butuh kurang dari Rp 20.000,- sehingga Arief akan mendapat untung Rp 30.000,- per hari) Bari setuju dan akan mulai berjualan esok pagi.
Esok paginya saya melihat dua orang, Arief dan Bari, berangkat bersama. Arief akan menunjukkan pada Bari tempatnya berjualan sekaligus mengenalkan Bari kepada orang-orang di lingkungan sekitarnya dan pada orang-orang yang menitipkan dagangan.
Hari berikutnya saya membantu Arief mengecat gerobagnya yang baru. Dia bercerita akan mencari tempat mangkal lagi di Bilangan Tanah Abang. Dia juga akan membuat gerobag lagi karena rencana membuka lahan untuk istrinya di dekat rumah tetap akan diwujudkan.
Beberapa hari setelah itu, karena kesibukan masing-masing, kami tidak bertemu. Hingga suatu hari saya sedang jalan-jalan di Tanah Abang tiba-tiba ada yang memanggil. Saya menengok dan ternyata Arief. Rupanya dia telah mendapat tempat berjualan. Tampak beberapa orang sedang menikmati mie ayamnya.
Cerita Terulang
Minggu demi minggu berlalu dan Arief telah membuat gerobag lagi. Ini kelanjutan rencana membuka lahan berjualan untuk istrinya. Tapi cerita terulang lagi. Seorang temannya, sebut saja namanya Danang, datang dengan masalah yang sama dengan Bari. Ariefpun menawarkan pada Danang kerjasama seperti yang ditawarkan kepada Bari. Danang menerima dan ‘ditempat-tugaskan’ di Tanah Abang.
Akhirnya rencana untuk istrinya dapat terwujud. Suatu pagi saya melihat tiga gerobag mangkal di depan rumah kontrakan Arief. Terlihat kesibukan Arief dibantu istrinya menyiapkan segala perbekalan. Sekitar pukul setengah sembilan dua ‘pegawainya’ datang dan mendorong dua gerobag.
Lalu giliran Arief menyiapkan dasaran untuk istrinya.
Biasanya pukul sembilan dia sudah bersantai di rumah. Beristirahat atau melakukan aktifitas yang lain. Setelah shalat dhuhur dia menggantikan istrinya hingga saat shalat ashar tiba. Kadang dia mentraktirku makan siang. Tentu dengan menu mie ayam buatannya. (seperti biasa saya pesan menu spesial dengan bakso)
Dan Pelajarannya
Satu pelajaran yang saya petik dari persahabatan saya dengan Arief adalah dia tidak punya mimpi dan rencana yang muluk-muluk. Dia hanya punya satu rencana lalu mengerjakannya dengan sepenuh hati dan segenap tenaga. Lalu sisanya mengalir mengikutinya.
Tentu Arief telah pula mengalami getirnya menjadi pedagang Mie Ayam. Ban bocor saat mau berangkat dan kompor yang ngadat hanya sebagian di antaranya. Tapi Arief tetap maju terus mengatasi segala rintangan.
Pada 2002 saya memutuskan untuk mudik ke Semarang . Saat itu Arief telah memiliki 3 ‘cabang’. Iseng saya menghitung keuntungan Arief. Tiap satu gerobag dia mendapat untung Rp 30.000,- per hari. Tiga gerobag berarti Rp 90.000,- sehari. Maka selama satu bulan paling tidak dia mengantongi Rp 2,7 juta. Saya katakan ‘paling tidak’ karena keuntungan dari gerobag yang di dekat rumah dia kantongi seluruhnya.
Seorang yang ‘hanya’ lulusan Madrasah Tsanawiyah berpenghasilan sebesar ini pada tahun 2002 saya pikir tidak terlalu buruk. Lagipula kalau ada lahan Arief masih bisa membuka ‘cabang’ lagi.
Selain itu Arief telah membuka jalan mencari nafkah bagi dua temannya. Dan yang lebih menyenangkan dia punya banyak waktu di rumah atau berkumpul dengan istrinya. Semua itu dicapai dalam waktu kurang dari dua tahun.
Sayangnya sejak saya mudik tahun 2002 hingga sekarang belum pernah kontak lagi dengannya. Beberapa kali ditugaskan ke Jakarta, tapi saya tidak sempat mampir. Semoga dagangannya tambah laris dan usahanya semakin lancar.
BRAVO MIE AYAM.(Artikel ini sangat mendalam maknanya bagi admin pribadi, untuk itulah saya berani mengcopy paste, semoga bermanfaat juga bagi yang lain)
PS. Artikel di COPAS dari webnya Mas Arief Maulana tanpa perubahan apapun
Monday, February 1, 2010
setiap kita adalah anugerah..

Setiap kita adalah anugerah..
Istimewa yang melengkapi kehidupan yang lain
Bahkan jika kita berada jauh di dalam
semak belukar pedalaman dunia
Tuhan telah tuliskan dalam guratan takdir
Pasangan yang mengisi setiap inci hati
Tidak kan sempurna namun mengagumkan
Caranya mencintai kekurangan kita
Caranya mengagungkan kelebihan kita.
Lewat itulah dia mengambil sedikit demi sedikit
Kasih sayang dan perasaan rindu kita ke hatinya
Bukan dibujuk atau terperdaya
Namun kerelaan menyertakan kesenangan
Untuk sedapat mungkin kan dibagi berdua
KebesaranNyalah setiap detik gemuruh aneh
Yang mengganggu lelapnya tidur
Yang mengurangi rasa lapar dan dahaga tubuh
Berganti keinginan bersua tak terhingga
Sepertinya batin ini terikat sepertinya jantung ini terhenti
Sekelebat saja bayangannya hadir
Sudah begitu bahagia hidup ini
Berhentilah waktu barang satu hari saja
Agar bersamanya takkan pernah berakhir..
Thursday, January 28, 2010
kata adalah doa

Setiap kata adalah doa bagi yang memintanya
jika itu baik maka kebaikan akan disampaikan padanya
dan sebaliknya jika itu buruk maka keburukan juga yang disampaikan padanya
kita bertanggung jawab penuh atas amanah umur yang dipercayakan Tuhan pada kita
tidak bisa orang lain memikul dosa kita dan sebaliknya.
maka selama kita di dunia akan selalu terjadi hukum tarik menarik
sebab akibat dan awal serta akhir.
Sunatullah menjadi landasan logika pada fikiran manusia
ada siang maka malam pasti datang. Ada panas maka selainnya adalah dingin
ada kebaikan maka ada juga pahalanya. Semakin banyak yang kita perbuat maka semakin banyak juga akibat yang akan kita tanggung
semakin memberi maka pasti akan semakin banyak menerima.
Duhai Tuhan yang maha Bijak ajarkan aku meluaskan hati
bimbing aku mengikhlaskan hidup pasrah padaMu.
agar tidak ada lagi beban untuk menjalani kehidupan
amin..
Saturday, January 23, 2010
DAI SEJUTA UMAT

KH Zainuddin Muhammad Zein atau lebih dikenal KH. Zainudin MZ. Sosok dai yang begitu terkenal dimasanya. Pandai, cerdas dalam membawakan ceramah-ceramahnya dan sangat menguasai audience.. Beliau lahir di Jakarta 2 Maret 1951. Yang sangat saya ingat dari sekian banyak ceramah beliau dan paling saya suka adalah ketika bercerita tentang sosok Khalifah Umar Bin Khattab yang menjadi pemimpin yang begitu adil dimasanya. Beliau membawakannya dengan sangat apik, gaya bahasanya ringan tapi lugas, hafalannya pada ayat-ayat Qur’an dan Hadist begitu dalam, sampai saya yang saat itu masih berusia sangat belia mungkin SD atau SMP selalu terkesan dan hampir tiap sehabis subuh saya tidak pernah meninggalkan ceramah-ceramah beliau di radio. Meskipun seringkali oleh pihak radio ceramahnya diulang-ulang tetap saja tidak ada rasa bosan untuk selalu mendengarnya lagi. Kemarin iseng-iseng saya surfing di Google untuk mencari apabila ada rekaman MP3 atau dalam bentuk apapun yang isinya ceramah-ceramah beliau, tapi ternyata tidak ada, lalu saya coba mencari di You Tube mungkin ada versi video rekaman dakwah beliau di berbagai daerah. Akhirnya memang saya beruntung, dan yang membuat saya lebih senang lagi adalah ceramah favorit saya ternyata juga ada disitu, yaitu tentang Umar Bin Khattab, Nggak pake lama langsung aja saya download menggunakan software download manager supaya lebih cepat.. Saya sudah sangat tidak sabar untuk mendengarkan isinya dan ternyata memang benar inilah yang saya cari-cari..Uh senangnya usaha tidak sia-sia. Sampai dirumah file video saya convert untuk dijadikan mp3 biar gak terlalu berat toh saya Cuma butuh suaranya..Tapi maaf ya sobat, setelah saya upload ternyata filenya terlalu berat jadi susah masuknya ke Ziddu.com. Niatnya tadi mau saya share buat yang satu aliran sama saya (maniak ceramah). Tapi jangan kuatir, setelah berdoa lalu surfing tanya Kyai Google.he.he.akhirnya saya temukan sebuah blog punya bos Hanaoki yang koleksinya lengkap buat ceramah Pak Zainudin MZ, langsung kunjungi dan download aja deh Gratis kok..Neh alamatnya. Hanaoki's blog.
Semoga bermanfaat ya.. Assalamu alaikum..
Thursday, January 21, 2010
Aku bersyukur dalam hidup

Kata-kata seperti judul diatas mungkin sudah sangat umum diucapkan di majelis -majelis dan pengajian, tapi tahukah anda jika kita tidak sungguh-sungguh merenung apa itu arti syukur dan kita belum pernah berda dalam satu keadaan dimana kita sepertinya sendirian dan terpuruk, bahkan untuk mengucap saja mungkin kita tidak akan bisa.. Lalu pertanyaannya apakah penulis blog ini sudah menjadi orang yang bersyukur? saya jawab belum..Kalau begitu kenapa saya menulis artikel ini padahal saya belum jadi orang yang bersyukur..Justru itu, saya hanya ingin berbagi pengalaman bagaimana begitu luasnya nikmat Tuhan yang dilimpahkan pada kita sampai kita lupa, sampai kita tidak tahu bahwa sebenarnya itu adalah nikmat, nah..bagaimana mungkin saya bisa disebut orang yang bersyukur??Tapi mungkin sedikit saja saya sudah bisa memahami apa itu artinya bersyukur, berbahagia dengan apa yang telah ada dan kita nikmati saat ini meskipun menurut orang lain itu biasa saja. Satu ketika saya benar-benar berada dalam keadaan yang menurut saya sangat buruk. Saat itu baru lulus kuliah, belum dapat kerja sementara untuk minta pada orang tua merasa tidak enak karena dua orang kakak masih kuliah dan satu lagi belum selesai kuliah, ditambah lagi saya harus kost dengan biaya per bulan yang menurut saya sudah cukup mahal 200ribu. Bagaimana saya bisa bertahan di kota orang dengan uang pas-pasan, makan seadanya sambil berusaha mencari kerja..Putus asa rasanya, pekerjaan tidak kunjung saya dapat sementara kebutuhan harus dipenuhi..Ya Allah apa yang harus saya lakukan? Satu malam selesai sholat isya di sebuah masjid di pinngiran kota saya segera bergegas untuk pulang ke kost karena badan sudah lusuh rasanya, capek dan penat karena seharian berputar kota menaruh lamaran kerja. Di jalan saya melihat seorang kakek tua mendorong gerobak yang ternyata isinya Es sari kedelai yang dijual 500 rupiah. Tua sekali kakek itu bahkan sampai menahan beban tubuhnya sendiri sudah tidak sanggup. Pelan..sekali jalannya sambil mendorong gerobaknya.. Rasanya ingin menangis saya Melihat itu semua. Badan saya bergetar merinding. Sambil berlalu dalam hati saya seolah ada sesuatu yang tadinya tertutup rapat lalu terbuka lebar-lebar. Saya ambil nafas panjang untuk menghilangkan sesak karena kejadian itu. Ya Allah......Aku telah lupa untuk bersyukur atas nikmatMu, aku sibuk dengan masalahku sendiri yang begitu kecil sementara orang lain berjuang untuk hidupnya, aku telah lalai untuk melihat hikmah dari semua yang kau tunjukkan padaku, ampuni aku Ya Allah..Mulai saat ini aku berjanji untuk hidup demi memudahkan urusan dan membahagiakan orang lain hingga Engkaupun akan memudahkan kehidupanku. Benar-benar peringatan yang aneh bagi saya, rasanya sangat magis dengan sebuah pertanda yang diperlihatkan oleh Tuhan pada saya..Mulai saat itu saya berjanji untuk mensyukuri apa saja yang terjadi pada diri saya dan keluarga dan mencoba melihatnya sebagai sebuah hikmah yang dipersiapkan bagi masa depan saya..(Barangsiapa yang bersyukur atas nikmat-Ku maka niscaya akan kutambah nikmat itu, tapi bagi siapa yang ingkar maka ketahuilah bahwa AzabKu sangatlah pedih) saya lupa itu surat apa dalam AlQur'an, tapi saya ingat artinya karena sering sekali dibaca waktu khutbah Jum'at..
Subscribe to:
Posts (Atom)