Thursday, March 4, 2010

IBU-ku


Pada zaman Rasulullah s.a.w., baginda pernah ditanya oleh seorang pemuda, “siapakah orang yang paling perlu untuk saya berbuat baik”. Rasulullah bersabda, “ibumu,lalu siapa lagi ya Rasul? kata pemuda itu lagi,ibumu, lalu siapa lagi ya Rasul?, ibumu, lalu siapa lagi ya Rasul?, bapamu.” Kutipan dialog antara Rasulullah dan seorang pemuda ini adalah isyarat bagaimana seorang Nabi yang agung begitu mengagungkan posisi ibu di hatinya, sampai berulang 3 kali banyaknya Nabi menyuruh pemuda itu menghormati ibu. Sungguh memang orang tua terutama ibu adalah sosok manusia yang bebannya paling berat dalam kehidupan, pantas jika surga diletakkan di bawah kakinya. Begitupun ibu bagi saya. Beliau adalah manusia yang sepertinya tak pernah lelah mengupayakan agar buah hatinya akan selalu hangat dalam selimut, tanpa sama sekali terikat dinginya angin. Dialah manusia yang senantiasa menaruh nama kita dihatinya terucap dalam setiap bait doa-doanya. Saya begitu terngiang kata-katanya yang sampai sekarang masih saya pegang dan jadi prinsip hidup, " Seng Sabar yo le, ayo dungo karo ikhtiar mugo-mugo Pengeran ngijabahi" begitu katanya (red. Yang sabar ya nak, ayo kita berdoa dan ikhtiar semoga Allah memberikan jalan) saya tidak akan pernah lupa kalimat itu. Sering sekali kalimat itu terucap ketika saya masih mengenyam bangku kuliah, saat itu ayah dan ibu saya harus membiayai kuliah saya dan kakak di sebuah Universitas Negeri di Surabaya. Tahu sendiri kan bagaimana mahalnya kebutuhan orang kuliah sekaligus juga dengan biaya kost tiap bulannya.. Waktu itu sering sekali saya mengeluh karena uang saku memang tidak mencukupi untuk biaya hidup dan membuat tugas - tugas kampus, bukannya marah tapi mau bagaimana lagi. Saat itulah kalimat mutiara itu selalu terlontar dari mulut beliau sambil mengelus rambut saya lembut dan penuh kasih. Sebagai anak rasanya tidak kuasa saya menahan haru atas pengorbanan ayah ibu saya menguliahkan saya dan kakak. Sayalah yang paling tahu bagaimana motor satu-satunya harus digadaikan untuk biaya semester, sayalah yang paling tahu bagaimana beliau selalu menangis dalam setiap sholatnya, menyebut berkali - kali nama anak-anaknya dalam doa agar kami selalu diberi kesehatan dan kekuatan menghadapi hidup. Tidak ada yang lebih menyakitkan hati saya daripada melihat airmata ibu saya harus jatuh karena kenakalan - kenakalan kami. Jikalaupun satu saat saya memiliki gunung emas dan saya persembahkan semuanya untuk beliau, pasti tidak akan cukup untuk membalas kasih sayangnya yang begitu besar. Dialah malaikat yang paling cantik ketika mimpi datang menyapa tidur. Dialah matahari terhangat yang pernah Allah ciptakan untuk dunia, Dialah senyum terindah ketika mata mulai terbangun di pagi hari. Ibu, anakmu ini begitu banyak berbuat salah, izinkan sedikit saja ananda melukiskan pelangi di hatimu sebelum kau akan berpulang padaNYa.

Terimalah Satu lagu indah yang mungkin bisa menyampaikan betapa hormat dan sayangnya ananda padamu..

Bunda


by : Melly Goeslaw




ku buka album biru

penuh debu dan usang

ku pandangi semua gambar diri

kecil bersih belum ternoda

pikirkupun melayang

dahulu penuh kasih

teringat semua cerita orang

tentang riwayatku


reff#

kata mereka diriku slalu dimanja

kata mereka diriku slalu dtimang


nada nada yang indah

slalu terurai darinya

tangisan nakal dari bibirku

takkan jadi deritanya


tangan halus dan suci

tlah mengangkat diri ini

jiwa raga dan seluruh hidup

rela dia berikan


oh bunda ada dan tiada

dirimu kan slalu ada di dalam

hatiku ...

Wednesday, February 24, 2010

Melihatpun butuh kesiapan




Pasti dalam kehidupan sehari – hari kita sering melihat berbagai realita kehidupan yang mungkin sama sekali tidak pernah terbayang dalam benak kita. Entah itu yang baik, buruk atau yang belum jelas baik buruknya. Apakah kita menyadari bahwa semua itu butuh kesiapan kita untuk melihat. Apa yang harus disiapkan? Hati kita. Agar semua yang kita lihat dapat kita sikapi dengan bijaksana, agar yang kita lihat akan menjadi pelajaran yang sangat berharga dalam menjalani kehidupan. Mungkin pesan ini memang tidak terlalu penting, tapi bagi saya nasehat ini akan saya pegang sampai mati. Ceritanya, satu ketika saya pernah berdoa pada Tuhan.. Ya Allah, hamba ini seringkali berbuat bodoh, melakukan hal – hal yang Engkau larang yang seharusnya hamba jauhi, maka untuk membuat hamba akan selalu ingat untuk kembali padaMu, mohon setiap kali hamba melakukan kebodohan tunjukkanlah sesuatu keadaan yang lebih buruk dari keadaan hamba saat ini agar hati hamba terbuka mau bersyukur dan akhirnya kembali padaMu. Begitulah kira-kira isi doa saya waktu itu. Entah pikiran saya saja atau memang doa saya di ijabah tapi mulai saat itu setiap kali saya habis melakukan dosa yang besar(tidak perlu saya sebutkan ya..malu neh..) dalam perjalanan entah itu ke kantor atau perjalanan pulang selalu saja ada sesuatu yang sepertinya menarik mata saya agar saya melihatnya. Misalnya di pinggir jalan saya melihat seorang nenek yang tua renta berjualan sapu lidi dan keset dari sabut kelapa. Di hati ini rasanya perih sekali melihat keadaan nenek tua itu dan lalu saya tersadar dengan doa saya yang dulu, Ya Allah, kenapa masih juga hamba tidak bersyukur padaMu, dari tahun ke tahun cuma seperti ini ibadah hamba padaMu, tidak ada peningkatan sama sekali. Dan untuk saat itu secara ajaib ibadah sholat saya jadi bisa lebih khusyuk, ya walaupun cuma untuk beberapa saat.

Inilah yang saya maksud melihatpun butuh kesiapan.. kesiapan untuk mampu mengkonversi apa yang dilihat mata atau didengar telinga menjadi penggugah hati untuk lebih bersyukur atas keadaan kita sekarang ini dan berubah menjadi lebih baik lagi meskipun sesaat. Saya tidak ingin mengatakan bahwa saat ini saya sudah jadi orang baik, hanya saja saya sudah menemukan jawaban bagaimana mengembalikan hati saya ke tempat yang seharusnya. Tiap orang pasti berbeda caranya tapi yang pasti kita semua harus menemukan caranya kembali pada Sang Khalik, karena itu yang terpenting dalam hidup..semoga kita semua mendapatkan hidayah yang menerangi jalan hidup ini. Amin


Thursday, February 18, 2010

Segala hal Tentang Anak Muda


Saya coba tuliskan sesuatu yang lebih khusus dari kacamata saya pribadi tentang anak muda, tidak ada maksud untuk memberikan penilaian atau apapun karena artikel ini hanya didasari sudut pandang penulis semata..
Anak muda. Adalah manusia dengan usia mulai baligh atau telah mulai puber ditandai dengan dialaminya mimpi basah da menstruasi pada wanita. Umumnya pada wanita usia ini diawali pada usia 9 atau 12 tahun dan pada laki – laki dimulai pada usia 15 Tahun. Apa sebenarnya yang menarik dari anak muda? Tidak lain adalah semangat rasa ingin tahunya yang masih sangat tinggi dan menggebu – gebu tentang suatu hal yang seringkali sama sekali tidak dimengerti oleh akalnya. Apakah itu baik atau justru buruk? Sangat tergantung dari bagaimana dia menyikapinya. Karena sedikit banyak dia sudah wajib memikul tanggung jawab atas dirinya sendiri. Nakal, bandel, pemberontak dan suka menjadi perhatian adalah hal yang umumnya terjadi karena mereka masih ingin mencari jati dirinya masing –masing. Coba saja lihat yang terekam di televise, radio dan Koran di tiap edisi.. demo mahasiswa, tawuran antar siswa sekolah umum adalah salah satu hal yang lazim kita temui setiap hari meskipun tidak sedikit juga yang memiliki kegiatan positif seperti kegiatan amal, kompetisi olahraga dan olimpiade mata pelajaran. Pacaran. Sudah hampir pasti ini dialami oleh semua nanak muda. Tentu anda masih ingat soal kasus anak SMP di Sidoarjo yang kabur dari rumah dengan kenalannya di Facebook ? itu Cuma salah satu lika – liku anak muda dalam mencari cintanya, atau kisah romeo dan Juliet yang sangat terkenal sampai keduanya menemui ajal. Memang Cuma cerita fiksi tapi sedikit banyak tetap diambil dari kehidupan nyata. Anak muda di Indonesia ternyata masih sangat adaptif terhadap apa yang dilihat dan didengarnya, korban mode, korban trend dan yang pasti korban kepribadian. Banyak sekali hal – hal yang mereka lakukan juga termasuk saya meniru budaya barat yang bebas dan sering tanpa control. Saya sendiri adalah seorang yang masih bisa disebut sebagai anak muda karena usia belum menyentuh kepala 4. meskipun sudah bekerja dan sudah harus membiayai kehidupan pribadi tetapi masih saja ada waktu – waktu dimana ingin manja pada orang tua, bandel dan memberontak pada aturan yang ada. That’s a young man. Banyak hal yang telah saya lewati dalam hidup meskipun memang masih sangat banyak lagi yang belum, menikah, punya anak, mendidik anak, dan jika tiba saatnya harus merawat orang tua karena telah datang waktu renta yang tidak dapat dihindari. Untuk itulah mulai sekarang saya mulai rajin uintuk menabung dan mencari – cari usaha sampingan yang nanti akan dapat mendukung keadaan financial saya agar menjadi lebih baik. Menurut saya sudah seharusnya anak muda seperti saya dan juga anda yang memiliki criteria yang saya sebutkan diatas mulai berfikir kreatif. Kreatif dalam segala hal. Kitalah harapan bangsa yang akan menjadi tulang punggung pembangunan. Kitalah yang seharusnya menjadi roda penggerak ekonomi riil, mendayagunakan masyarakat agar kehidupan mereka terangkat ke derajad yang lebih baik. Boleh kita nakal,boleh kita pemberontak asalkan untuk sesuatu yang berguna. Jadikan kenakalan kita sebagai awal untuk sebuah ide yang baru agar kehidupan menjadi segar dengan kehadiran kita. Sudah bukan saatnya lagi demo – demo, tawuran dan hal tidak berguna lainnya. Sikapi saja semua keadaan dengan positif dan mulai action dengan bakat dan kemampuan masing – masing saya kira itu akan lebih bermakna. Sekali lagi tidak ada maksud dalam artikel ini untuk menilai seseorang, semua ini hanyalah sudut pandang saya pribadi tentang permasalahan anak muda.



Wednesday, February 17, 2010

Sebab-sebab yang Membuat Hati Menjadi Lapang

Oleh: Istiqom4h
Sebab-sebab yang Membuat Hati Menjadi Lapang

Ibnul Qayyim menyebutkan beberapa hal yang membuat dada menjadi lapang dan damai. Dari semua itu yang paling penting adalah tauhid. Dengan kebersihan dan kesuciannya tauhid itu bisa menjadi lapang, jauh lebih luas dari dunia dan isinya.

Allah berfirman,

“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (QS. Thaha : 124)

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya , niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki kelangit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman” (QS. Al-An’am : 125)

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya (untuk) menerima agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata” (QS. Az-Zumar : 22)

Allah mengancam musuh-musuh-Nya dengan kesempitan hati, rasa takut, rasa khawatir, dan guncangan jiwa.

“Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim” (QS. Ali Imron : 151)

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya (untuk) menerima agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata” (QS. Az-Zumar : 22)

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya , niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki kelangit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman” (QS. Al-An’am : 125)

Selain bahwa tauhid adalah ilmu yang bermanfaat, para ulama adalah orang yang paling lapang dadanya, orang yang paling bahagia, dan orang yang paling senang. Merekalah pemegang warisan yang ditinggalkan Rasulullah.

“dan Dia telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui” (QS. An-Nisa : 113)

“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Ilah (Yang Haq) melainkan Allah” (QS. Muhammad : 19)

Amal shalih juga termasuk hal-hal yang membuat dada menjadi lapang. Kebaikan itu adalah cahaya di dalam hati, sinar di wajah, kelapangan dalam rejeki, dan ungkapan cinta di hati orang-orang di sekitarnya.

“Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak)” (QS. Al-Jin : 16)

Selanjutnya adalah keberanian. Seorang pemberani adalah orang yang kaya hati, teguh pendirian, dan kuat tubuhnya, karena dia hanya mengharapkan kepada Dzat Yang Maha Penyayang. Dia tidak akan terusik oleh berbagai peristiwa, tidak tergoyahkan oleh kasak-kusuk, dan tidak terguncang oleh suara-suara yang mencemaskan.

Menjauhi tindakan berlebihan dalam hal-hal yang mubah, baik dalam bicara, makan minum, dan bergaul

“dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna” (QS. Al-Mu’minun : 3)

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” ( QS. Qaaf :18 )

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid , makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan . Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A’raf : 31)

Semoga dengan membaca artikel ini kita akan mampu merubah kebiasaan yang buruk lalu diganti dengan kebiasaan yang baik Amin..


Friday, February 12, 2010

Menjadi kuat karena Kehilangan


Saya, anda atau mungkin juga sebagian besar umat muslim pasti pernah mendengar ceramah atau tausiah, entah di majelis atau televisi atau radio yang menyerukan agar kita tidak sampai terlalu cinta pada dunia. Karena jika itu yang terjadi maka ketika kita harus berpisah dengannya, akan terasa sangat perih rasanya di hati, bahkan mungkin sampai menangis tanpa henti. Bagi saya pribadi ajaran itu benar adanya. Secara teori ketika kita tidak sedang dalam posisi kehilangan atau kekurangan sesuatu, akan mudah bagi kita menyuruh orang lain untuk sabar atas masalah yang dihadapinya, tapi jika yang terjadi adalah sebaliknya, belum tentu juga kita bias bersabar dan ikhlas. Saya ingin bercerita tentang pengalaman pribadi perihal menjadi kuat karena kehilangan. Baru kemarin malam saya mendapatkan sedikit teguran dari Allah. HP kesayangan tiba – tiba hilang dari saku saat perjalanan keluar kota. Sudah barang tentu saya merasa panic dan mencari – cari. Coba di telefon dengan Hanphone adik tapi di reject, sampai beberapa kali dicoba tetap seperti itu. Hampir putus asa akhirnya saya hanya bisa termenung dengan hati yang dongkol dan menyesal sekali kenapa tidak menaruh handphone di saku baju. Lama sekali rasanya melamun sampai – sampai lupa kalau saat itu perut sudah sangat lapar. Lalu akhirnya teringat dengan tausiah seorang ustadz di televisi seperti yang saya uraikan diatas. Akhirnya hati saya mencari pembenaran teori untuk menghilangkan rasa dongkol yang tidak juga hilang. “ ah, terlalu berlebihan rasanya kalau harus terus – terusan marah sendiri, toh handphone tidak akan kembali.” Begitu pikir saya. Lalu saya bandingkan apa yang saya alami dengan kejadian – kejadian yang jauh lebih besar volume kehilangannya. Lumpur Sidoarjo, Gempa Sumatera barat atau bahkan tsunami aceh, bukankah jauh lebih besar kehilangan mereka daripada yang saya alami. Tidak senilai rasanya. Pikiran positif seperti inilah yang selalu saya kemukakan dalam hati sehingga tidak akan menggangu tujuan – tujuan lain yang ingin saya capai. Saya hanya berharap ini adalah sebuah intermezzo untuk tujuan saya yang lebih besar lagi. Jika kita sudah bisa menerima kehilangan / kekurangan sesuatu yang selama ini menemani kita. Saya rasa kedepan akan jauh lebih mudah untuk kita melangkah menghadapi kenyataan – kenyataan lain seperti ini. Endingnya kita akan bisa lebih ikhlas melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi diri kita dan orang lain tanpa takut kehilangan / kekurangan karena yakin Tuhan selalu bersama orang – orang yang sabar dan ikhlas.

Wednesday, February 10, 2010

Berguru dari Bakul Mie Ayam


Oleh : Bang Dje
Pada Mei 2000 saya merantau ke Jakarta. Semula saya tinggal di Condet. Hanya enam bulan di sana saya pindah ke Tanah Abang. Di sinilah saya mengenal seorang bakul mie ayam. Sebut saja namanya Arief.

Arief lulusan Madrasah Tsanawiyah di Kebumen, Jawa Tengah. Dia sudah menikah tetapi belum memiliki anak. Di Jakarta dia mengajar mengaji kepada anak-anak kecil di musholla dekat rumah. Kebetulan rumah kontrakan kami persis berhadap-hadapan.
Awalnya adalah Satu

Arief mencari nafkah dengan berjualan mie ayam. Dia memiliki satu gerobag. Pagi hari sebelum adzan shubuh berkumandang dia telah mengayuh sepedanya ke pasar untuk berbelanja berbagai kebutuhan. Saat bertemu di masjid untuk shalat shubuh biasanya dia telah selesai berbelanja. Setelah itu kerja keras dimulai.

Mengolah ayam, membuat kuah, membagi mie, menyiapkan kompor dan menata semuanya di gerobag. Tidak ketinggalan berbagai peralatan seperti mangkok, sumpit (ini temennya mie), sendok garpu, beberapa buah gelas dan beberapa botol air putih untuk pelanggan yang minta minum (gratis). Ada pula yang tidak boleh tertinggal yaitu kecap, saus, sambal dan acar. Sekitar jam delapan biasanya semua telah siap. Sesekali saya memesan untuk sarapan (ssst… tentu saja saya selalu dapat porsi lebih banyak).

Ternyata masakannya enak. Sehingga dengan cepat dia memperoleh langganan. Belum lagi beranjak dari rumah beberapa mangkok telah terjual. Dia biasa mangkal di Bilangan Slipi. Setelah membuka dasar nanti akan ada orang yang datang untuk menitipkan dagangannya seperti krupuk, gorengan, kacang dan makanan kecil lainnya. Hal ini membuat warungnya jadi kelihatan lebih ramai.

Saat shalat Ashar dia sudah hadir lagi di masjid yang berarti dia sudah pulang dari berjualan. Biasanya dagangannya sudah habis terjual. Tapi bukan berarti dia sudah bisa beristirahat. Setelah shalat ashar tugas lain sudah menanti. Bersih-bersih. Mangkok, sendok garpu, sumpit, gelas, botol air minum, dandang untuk kuah, semua harus dibereskan.

Gerobag juga harus dibersihkan. Bila perlu sekalian dicuci. Tidak perlu waktu terlalu lama. Sekitar satu jam semua sudah selesai dan dia bisa beristirahat. Ini saat santai buatnya.

Suatu hari saya melihat dua gerobag di depan rumah. Satu gerobag saya kenali milik Arief dan satu lagi gerobag baru yang belum dicat. Ternyata Arief mau membuka cabang. Dia akan membuka lahan untuk berjualan di dekat rumah dan akan ditunggui oleh istrinya.
Rencana Berubah

Tetapi belum lagi rencana ini berjalan seorang temannya, sebut saja Bari, datang. Dan rencanapun berubah.

Bari saat itu sedang menganggur. Dia ingin ikut berjualan Mie Ayam. Arief menawarkan kerja sama. Arief akan menyiapkan semua keperluan lengkap untuk berjualan. Bahkan Arief menawarkan tempatnya biasa mangkal di Bilangan Slipi. Tugas Bari hanya berjualan.

Tiap hari Bari harus setor Rp 50.000,- dan sisanya untuk Bari. (Saya dapat bocoran bahwa untuk belanja harian untuk satu gerobag hanya butuh kurang dari Rp 20.000,- sehingga Arief akan mendapat untung Rp 30.000,- per hari) Bari setuju dan akan mulai berjualan esok pagi.

Esok paginya saya melihat dua orang, Arief dan Bari, berangkat bersama. Arief akan menunjukkan pada Bari tempatnya berjualan sekaligus mengenalkan Bari kepada orang-orang di lingkungan sekitarnya dan pada orang-orang yang menitipkan dagangan.

Hari berikutnya saya membantu Arief mengecat gerobagnya yang baru. Dia bercerita akan mencari tempat mangkal lagi di Bilangan Tanah Abang. Dia juga akan membuat gerobag lagi karena rencana membuka lahan untuk istrinya di dekat rumah tetap akan diwujudkan.

Beberapa hari setelah itu, karena kesibukan masing-masing, kami tidak bertemu. Hingga suatu hari saya sedang jalan-jalan di Tanah Abang tiba-tiba ada yang memanggil. Saya menengok dan ternyata Arief. Rupanya dia telah mendapat tempat berjualan. Tampak beberapa orang sedang menikmati mie ayamnya.
Cerita Terulang

Minggu demi minggu berlalu dan Arief telah membuat gerobag lagi. Ini kelanjutan rencana membuka lahan berjualan untuk istrinya. Tapi cerita terulang lagi. Seorang temannya, sebut saja namanya Danang, datang dengan masalah yang sama dengan Bari. Ariefpun menawarkan pada Danang kerjasama seperti yang ditawarkan kepada Bari. Danang menerima dan ‘ditempat-tugaskan’ di Tanah Abang.

Akhirnya rencana untuk istrinya dapat terwujud. Suatu pagi saya melihat tiga gerobag mangkal di depan rumah kontrakan Arief. Terlihat kesibukan Arief dibantu istrinya menyiapkan segala perbekalan. Sekitar pukul setengah sembilan dua ‘pegawainya’ datang dan mendorong dua gerobag.

Lalu giliran Arief menyiapkan dasaran untuk istrinya.

Biasanya pukul sembilan dia sudah bersantai di rumah. Beristirahat atau melakukan aktifitas yang lain. Setelah shalat dhuhur dia menggantikan istrinya hingga saat shalat ashar tiba. Kadang dia mentraktirku makan siang. Tentu dengan menu mie ayam buatannya. (seperti biasa saya pesan menu spesial dengan bakso)
Dan Pelajarannya

Satu pelajaran yang saya petik dari persahabatan saya dengan Arief adalah dia tidak punya mimpi dan rencana yang muluk-muluk. Dia hanya punya satu rencana lalu mengerjakannya dengan sepenuh hati dan segenap tenaga. Lalu sisanya mengalir mengikutinya.

Tentu Arief telah pula mengalami getirnya menjadi pedagang Mie Ayam. Ban bocor saat mau berangkat dan kompor yang ngadat hanya sebagian di antaranya. Tapi Arief tetap maju terus mengatasi segala rintangan.

Pada 2002 saya memutuskan untuk mudik ke Semarang . Saat itu Arief telah memiliki 3 ‘cabang’. Iseng saya menghitung keuntungan Arief. Tiap satu gerobag dia mendapat untung Rp 30.000,- per hari. Tiga gerobag berarti Rp 90.000,- sehari. Maka selama satu bulan paling tidak dia mengantongi Rp 2,7 juta. Saya katakan ‘paling tidak’ karena keuntungan dari gerobag yang di dekat rumah dia kantongi seluruhnya.

Seorang yang ‘hanya’ lulusan Madrasah Tsanawiyah berpenghasilan sebesar ini pada tahun 2002 saya pikir tidak terlalu buruk. Lagipula kalau ada lahan Arief masih bisa membuka ‘cabang’ lagi.

Selain itu Arief telah membuka jalan mencari nafkah bagi dua temannya. Dan yang lebih menyenangkan dia punya banyak waktu di rumah atau berkumpul dengan istrinya. Semua itu dicapai dalam waktu kurang dari dua tahun.

Sayangnya sejak saya mudik tahun 2002 hingga sekarang belum pernah kontak lagi dengannya. Beberapa kali ditugaskan ke Jakarta, tapi saya tidak sempat mampir. Semoga dagangannya tambah laris dan usahanya semakin lancar.

BRAVO MIE AYAM.(Artikel ini sangat mendalam maknanya bagi admin pribadi, untuk itulah saya berani mengcopy paste, semoga bermanfaat juga bagi yang lain)

PS. Artikel di COPAS dari webnya Mas Arief Maulana tanpa perubahan apapun

Monday, February 1, 2010

setiap kita adalah anugerah..


Setiap kita adalah anugerah..
Istimewa yang melengkapi kehidupan yang lain
Bahkan jika kita berada jauh di dalam
semak belukar pedalaman dunia
Tuhan telah tuliskan dalam guratan takdir
Pasangan yang mengisi setiap inci hati
Tidak kan sempurna namun mengagumkan
Caranya mencintai kekurangan kita
Caranya mengagungkan kelebihan kita.
Lewat itulah dia mengambil sedikit demi sedikit
Kasih sayang dan perasaan rindu kita ke hatinya
Bukan dibujuk atau terperdaya
Namun kerelaan menyertakan kesenangan
Untuk sedapat mungkin kan dibagi berdua
KebesaranNyalah setiap detik gemuruh aneh
Yang mengganggu lelapnya tidur
Yang mengurangi rasa lapar dan dahaga tubuh
Berganti keinginan bersua tak terhingga
Sepertinya batin ini terikat sepertinya jantung ini terhenti
Sekelebat saja bayangannya hadir
Sudah begitu bahagia hidup ini
Berhentilah waktu barang satu hari saja
Agar bersamanya takkan pernah berakhir..